SOY YOUNK BLOG'S

UNTUK SAHABAT BLOG INI DI BUAT…………………………

Category Archives: AGAMA

WANITA YANG BERPAKAIAN TAPI TELANJANG!!! sadarlah???

Inilah yang kami sedihkan pada kaum wanita saat ini. Zaman sudah semakin rusak. Perzinaan di mana-mana. Pornografi yang sudah semakin marak. Bahkan hal-hal porno semacam ini bukan hanya digandrungi oleh orang dewasa, namun juga anak-anak. Bahkan terakhir ini yang sudah membuat kami semakin geram, tidak sadar-sadarnya wanita dalam berpakaian. Saat ini sangat berbeda dengan beberapa tahun silam. Sekarang para wanita sudah banyak yang mulai membuka aurat. Bukan hanya kepala yang dibuka atau telapak kaki, yang di mana kedua bagian ini wajib ditutupi. Namun, sekarang ini sudah banyak yang berani membuka paha dengan memakai celana atau rok setinggi betis. Ya Allah, kepada Engkaulah kami mengadu, melihat kondisi zaman yang semakin rusak ini.
Kami tidak tahu beberapa tahun mendatang, mungkin kondisinya akan semakin parah dan lebih parah dari saat ini. Mungkin beberapa tahun lagi, berpakaian ala barat yang transparan dan sangat memamerkan aurat akan menjadi budaya kaum muslimin. Semoga Allah melindungi keluarga kita dan generasi kaum muslimin dari musibah ini.
Tanda Benarnya Sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
صِ فَُِا يِ أَهِمِ ان اَُّسِ نَىِ أَسَهُ اًَ قَىِوْ يَعَهُىِ سِيَاطٌ كَأَرْ اََبِ انْثَقَشِ يَضِشِتُى تِهَا ان اَُّسَ وَ سََِاءٌ كَاسِيَاخْ عَاسِيَاخْ يُ يًِلاَخْ
يَائِلاَخْ سُءُوسُهُ كَأَسِ حًَُِِ انْثُخِدِ انْ اًَئِهَحِ لاَ يَذِخُهْ انْجَ حََُّ وَلاَ يَجِذِ سِيحَهَا وَإِ سِيحَهَا نَيُىجَذُ يِ يَسِيرَجِ كَزَا وَكَزَا
“Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)
http://ru maysho.com Muhammad Abduh Tuasikal
Page2
Hadits ini merupakan tanda mukjizat kenabian. Kedua golongan ini sudah ada di zaman kita saat ini. Hadits ini sangat mencela dua golongan semacam ini. Kerusakan seperti ini tidak muncul di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam karena sucinya zaman beliau, namun kerusakan ini baru terjadi setelah masa beliau hidup (Lihat Syarh Muslim, 9/240 dan Faidul Qodir, 4/275). Wahai Rabbku. Dan zaman ini lebih nyata lagi terjadi dan kerusakannya lebih parah.
Saudariku, pahamilah makna ‘kasiyatun ‘ariyatun’
An Nawawi dalam Syarh Muslim ketika menjelaskan hadits di atas mengatakan bahwa ada beberapa makna kasiyatun ‘ariyatun.
Makna pertama: wanita yang mendapat nikmat Allah, namun enggan bersyukur kepada-Nya.
Makna kedua: wanita yang mengenakan pakaian, namun kosong dari amalan kebaikan dan tidak mau mengutamakan akhiratnya serta enggan melakukan ketaatan kepada Allah.
Makna ketiga: wanita yang menyingkap sebagian anggota tubuhnya, sengaja menampakkan keindahan tubuhnya. Inilah yang dimaksud wanita yang berpakaian tetapi telanjang.
Makna keempat: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)
Pengertian yang disampaikan An Nawawi di atas, ada yang bermakna konkrit dan ada yang bermakna maknawi (abstrak). Begitu pula dijelaskan oleh ulama lainnya sebagai berikut.
Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis yang menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Muslimah, 125-126)
Al Munawi dalam Faidul Qodir mengatakan mengenai makna kasiyatun ‘ariyatun, “Senyatanya memang wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya dia telanjang. Karena wanita tersebut mengenakan pakaian yang tipis sehingga dapat menampakkan kulitnya. Makna lainnya adalah dia menampakkan perhiasannya, namun tidak mau mengenakan pakaian takwa. Makna lainnya adalah dia mendapatkan nikmat, namun enggan untuk bersyukur pada Allah. Makna lainnya lagi adalah dia berpakaian, namun kosong dari amalan kebaikan. Makna lainnya lagi adalah dia menutup sebagian badannya, namun dia membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutupi) untuk menampakkan keindahan dirinya.” (Faidul Qodir, 4/275)
Hal yang sama juga dikatakan oleh Ibnul Jauziy. Beliau mengatakan bahwa makna kasiyatun ‘ariyatun ada tiga makna.
Pertama: wanita yang memakai pakaian tipis, sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita seperti ini memang memakai jilbab, namun sebenarnya dia telanjang.
http://ru maysho.com Muhammad Abduh Tuasikal
Page3
Kedua: wanita yang membuka sebagian anggota tubuhnya (yang wajib ditutup). Wanita ini sebenarnya telanjang.
Ketiga: wanita yang mendapatkan nikmat Allah, namun kosong dari syukur kepada-Nya. (Kasyful Musykil min Haditsi Ash Shohihain, 1/1031)
Kesimpulannya adalah kasiyatun ‘ariyat dapat kita maknakan: wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya dan wanita yang membuka sebagian aurat yang wajib dia tutup.
Tidakkah Engkau Takut dengan Ancaman Ini
Lihatlah ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Memakaian pakaian tetapi sebenarnya telanjang, dikatakan oleh beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, “wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.”
Perhatikanlah saudariku, ancaman ini bukanlah ancaman biasa. Perkara ini bukan perkara sepele. Dosanya bukan hanya dosa kecil. Lihatlah ancaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam di atas. Wanita seperti ini dikatakan tidak akan masuk surga dan bau surga saja tidak akan dicium. Tidakkah kita takut dengan ancaman seperti ini?
An Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘wanita tersebut tidak akan masuk surga’. Inti dari penjelasan beliau rahimahullah:
Jika wanita tersebut menghalalkan perbuatan ini yang sebenarnya haram dan dia pun sudah mengetahui keharaman hal ini, namun masih menganggap halal untuk membuka anggota tubuhnya yang wajib ditutup (atau menghalalkan memakai pakaian yang tipis), maka wanita seperti ini kafir, kekal dalam neraka dan dia tidak akan masuk surga selamanya.
Dapat kita maknakan juga bahwa wanita seperti ini tidak akan masuk surga untuk pertama kalinya. Jika memang dia ahlu tauhid, dia nantinya juga akan masuk surga. Wallahu Ta’ala a’lam. (Lihat Syarh Muslim, 9/240)
Jika ancaman ini telah jelas, lalu kenapa sebagian wanita masih membuka auratnya di khalayak ramai dengan memakai rok hanya setinggi betis? Kenapa mereka begitu senangnya memamerkan paha di depan orang lain? Kenapa mereka masih senang memperlihatkan rambut yang wajib ditutupi? Kenapa mereka masih menampakkan telapak kaki yang juga harus ditutupi? Kenapa pula masih memperlihatkan leher?!
Sadarlah, wahai saudariku! Bangkitlah dari kemalasanmu! Taatilah Allah dan Rasul-Nya!
Wahyu Dari Langit Memerintahkan Menutup Seluruh Tubuh Kecuali Wajah dan Telapak Tangan
Allah Ta’ala berfirman,
http://ru maysho.com Muhammad Abduh Tuasikal
Page4
يَا أَيُّهَا ان ثَُِّيُّ قُمْ نِأَصِوَاجِكَ وَتَ اَُذِكَ وَ سََِاءِ انْ ؤًُِيِ يُِنَ يُذِ يَِنَ عَهَيِهِ يِ جَهَاتِيثِهِ رَنِكَ أَدِ أَ يُعِشَفْ فَهَا يُؤِرَيِ وَكَا انهَّهُ غَفُىسّا سَحِي اًّ
“Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mendekatkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS. Al Ahzab [33] : 59). Jilbab bukanlah penutup wajah, namun jilbab adalah kain yang dipakai oleh wanita setelah memakai khimar. Sedangkan khimar adalah penutup kepala.
Allah Ta’ala juga berfirman,
وَقُمْ نِهْ ؤًُِيِ اَُخِ يَغِضُضِ يِ أَتِصَاسِهِ وَيَحِفَظْ فُشُوجَهُ وَنَا يُثِذِي صِي رََُهُ إِنَّا يَا ظَهَشَ يِ هَُِا
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.” (QS. An Nuur [24] : 31). Berdasarkan tafsiran Ibnu Abbas, Ibnu Umar, Atho’ bin Abi Robbah, dan Mahkul Ad Dimasqiy bahwa yang boleh ditampakkan adalah wajah dan kedua telapak tangan.
Dari tafsiran yang shohih ini terlihat bahwa wajah bukanlah aurat. Jadi, hukum menutup wajah adalah mustahab (dianjurkan). (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Amru Abdul Mun’im, hal. 14)
Syarat Pakaian Wanita yang Harus Diperhatikan
Pakaian wanita yang benar dan sesuai dengan tuntunan Allah dan Rasul-Nya memiliki syarat-syarat. Jadi belum tentu setiap pakaian yang dikatakan sebagai pakaian muslimah atau dijual di toko muslimah dapat kita sebut sebagai pakaian yang syar’i. Semua pakaian tadi harus kita kembalikan pada syarat-syarat pakaian muslimah.
Para ulama telah menyebutkan syarat-syarat ini dan ini semua tidak menunjukkan bahwa pakaian yang memenuhi syarat seperti ini adalah pakaian golongan atau aliran tertentu. Tidak sama sekali. Semua syarat pakaian wanita ini adalah syarat yang berasal dari Al Qur’an dan hadits yang shohih, bukan pemahaman golongan atau aliran tertentu. Kami mohon jangan disalah pahami.
Ulama yang merinci syarat ini dan sangat bagus penjelasannya adalah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani rahimahullah –ulama pakar hadits abad ini-. Lalu ada ulama yang melengkapi syarat yang beliau sampaikan yaitu Syaikh Amru Abdul Mun’im hafizhohullah. Ingat sekali lagi, syarat yang para ulama sebutkan bukan mereka karang-karang sendiri. Namun semua yang mereka sampaikan berdasarkan Al Qur’an dan hadits yang shohih.
Syarat pertama: pakaian wanita harus menutupi seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan. Ingat, selain kedua anggota tubuh ini wajib ditutupi termasuk juga telapak kaki.
http://ru maysho.com Muhammad Abduh Tuasikal
Page5
Syarat kedua: bukan pakaian untuk berhias seperti yang banyak dihiasi dengan gambar bunga apalagi yang warna-warni, atau disertai gambar makhluk bernyawa, apalagi gambarnya lambang partai politik! Yang terkahir ini bahkan bisa menimbulkan perpecahan di antara kaum muslimin.
Allah Ta’ala berfirman,
وَقَشِ فِي تُيُىذِكُ وَنَا ذَثَشَّجِ ذَثَشُّجَ انْجَاهِهِيَّحِ انْأُونًَ
“Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu ber-tabarruj seperti orang-orang jahiliyyah pertama.” (QS. Al Ahzab : 33). Tabarruj adalah perilaku wanita yang menampakkan perhiasan dan kecantikannya serta segala sesuatu yang mestinya ditutup karena hal itu dapat menggoda kaum lelaki.
Ingatlah, bahwa maksud perintah untuk mengenakan jilbab adalah perintah untuk menutupi perhiasan wanita. Dengan demikian, tidak masuk akal bila jilbab yang berfungsi untuk menutup perhiasan wanita malah menjadi pakaian untuk berhias sebagaimana yang sering kita temukan.
Syarat ketiga: pakaian tersebut tidak tipis dan tidak tembus pandang yang dapat menampakkan bentuk lekuk tubuh. Pakaian muslimah juga harus longgar dan tidak ketat sehingga tidak menggambarkan bentuk lekuk tubuh.
Dalam sebuah hadits shohih, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat, yaitu : Suatu kaum yang memiliki cambuk, seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring, wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan ini dan ini.” (HR.Muslim)
Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah mengatakan, “Makna kasiyatun ‘ariyatun adalah para wanita yang memakai pakaian yang tipis sehingga dapat menggambarkan bentuk tubuhnya, pakaian tersebut belum menutupi (anggota tubuh yang wajib ditutupi dengan sempurna). Mereka memang berpakaian, namun pada hakikatnya mereka telanjang.” (Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, 125-126)
Cermatilah, dari sini kita bisa menilai apakah jilbab gaul yang tipis dan ketat yang banyak dikenakan para mahasiswi maupun ibu-ibu di sekitar kita dan bahkan para artis itu sesuai syari’at atau tidak.
Syarat keempat: tidak diberi wewangian atau parfum.
Dari Abu Musa Al Asy’ary bahwanya ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
أَيُّ اًَ ايِشَأَجٍ اسِرَعِطَشَخِ فَ شًََّخِ عَهَ قَىِوٍ نِيَجِذُوا يِ سِيحِهَا فَهِيَ صَا يََِحٌ
“Perempuan mana saja yang memakai wewangian, lalu melewati kaum pria agar mereka mendapatkan baunya, maka ia adalah wanita pezina.” (HR. An Nasa’i, Abu Daud, Tirmidzi dan Ahmad. Syaikh Al Albani dalam Shohihul Jami’ no. 323 mengatakan bahwa hadits ini shohih). Lihatlah ancaman yang keras ini!
http://ru maysho.com Muhammad Abduh Tuasikal
Page6
Syarat kelima: tidak boleh menyerupai pakaian pria atau pakaian non muslim.
Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata,
نَعَ ان ثَُِّ – صه الله عهيه وسهى – انْ خًَُ ثَُِّينَ يِ انشِّجَالِ ، وَانْ رًَُشَجِّلاَخِ يِ ان سَُِّاءِ
“Rasulullah melaknat kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan kaum wanita yang menyerupai kaum pria.” (HR. Bukhari no. 6834)
Sungguh meremukkan hati kita, bagaimana kaum wanita masa kini berbondong-bondong merampas sekian banyak jenis pakaian pria. Hampir tidak ada jenis pakaian pria satu pun kecuali wanita bebas-bebas saja memakainya, sehingga terkadang seseorang tak mampu membedakan lagi, mana yang pria dan wanita dikarenakan mengenakan celana panjang.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَ ذَشَثَّهَ تِقَىِوٍ فَهُىَ يِ هُُِىِ
”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka” (HR. Ahmad dan Abu Dawud. Syaikhul Islam dalam Iqtidho’ mengatakan bahwa sanad hadits ini jayid/bagus)
Betapa sedih hati ini melihat kaum hawa sekarang ini begitu antusias menggandrungi mode-mode busana barat baik melalui majalah, televisi, dan foto-foto tata rias para artis dan bintang film. Laa haula walaa quwwata illa billah.
Syarat keenam: bukan pakaian untuk mencari ketenaran atau popularitas (baca: pakaian syuhroh).
Dari Abdullah bin ‘Umar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
يَ نَثِسَ ثَىِبَ شُهِشَجٍ فِ انذُّ يََِا أَنْثَسَهُ انهَّهُ ثَىِبَ يَزَنَّحٍ يَىِوَ انْقِيَايَحِ ثُىَّ أَنْهَةَ فِيهِ اََسّا
“Barangsiapa mengenakan pakaian syuhroh di dunia, niscaya Allah akan mengenakan pakaian kehinaan padanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.” (HR. Abu Daud dan Ibnu Majah. Syaikh Al Albani mengatakan hadits ini hasan)
Pakaian syuhroh di sini bisa bentuknya adalah pakaian yang paling mewah atau pakaian yang paling kere atau kumuh sehingga terlihat sebagai orang yang zuhud. Kadang pula maksud pakaian syuhroh adalah pakaian yang berbeda dengan pakaian yang biasa dipakai di negeri tersebut dan tidak digunakan di zaman itu. Semua pakaian syuhroh seperti ini terlarang.
Syarat ketujuh: pakaian tersebut terbebas dari salib.
Dari Diqroh Ummu Abdirrahman bin Udzainah, dia berkata,
http://ru maysho.com Muhammad Abduh Tuasikal
Page7
كُ اَُّ طََُىفُ تِانْثَيِدِ يَعَ أُوِّ انْ ؤًُِيِ يُِنَ فَشَأَخِ عَهَ ايِشَأَجٍ تُشِداً فِيهِ ذَصِهِيةْ فَقَانَدِ أُوُّ انْ ؤًُِيِ يُِنَ اطْشَحِيهِ اطْشَحِيهِ فَئِ سَسُىلَ
انهَّهِ -صه الله عهيه وسهى- كَا إِرَا سَأَي حََِىَ هَزَا قَضَثَهُ
“Dulu kami pernah berthowaf di Ka’bah bersama Ummul Mukminin (Aisyah), lalu beliau melihat wanita yang mengenakan burdah yang terdapat salib. Ummul Mukminin lantas mengatakan, “Lepaskanlah salib tersebut. Lepaskanlah salib tersebut. Sungguh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika melihat semacam itu, beliau menghilangkannya.” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits ini hasan)
Ibnu Muflih dalam Al Adabusy Syar’iyyah mengatakan, “Salib di pakaian dan lainnya adalah sesuatu yang terlarang. Ibnu Hamdan memaksudkan bahwa hukumnya haram.”
Syarat kedelapan: pakaian tersebut tidak terdapat gambar makhluk bernyawa (manusia dan hewan).
Gambar makhluk juga termasuk perhiasan. Jadi, hal ini sudah termasuk dalam larangan bertabaruj sebagaimana yang disebutkan dalam syarat kedua di atas. Ada pula dalil lain yang mendukung hal ini.
Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, beliau berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki rumahku, lalu di sana ada kain yang tertutup gambar (makhluk bernyawa yang memiliki ruh, pen). Tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melihatnya, beliau langsung merubah warnanya dan menyobeknya. Setelah itu beliau bersabda,
إِ أَشَذَّ ان اَُّسِ عَزَاتّا يَىِوَ انقِيَايَحِ انزِّيِ يُشَثِّهُىِ بخَهْقِ اللهِ
”Sesungguhnya manusia yang paling keras siksaannya pada hari kiamat adalah yang menyerupakan ciptaan Allah.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah dan ini adalah lafazhnya. Hadits ini juga diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, An Nasa’i dan Ahmad)
Syarat kesembilan: pakaian tersebut berasal dari bahan yang suci dan halal.
Syarat kesepuluh: pakaian tersebut bukan pakaian kesombongan.
Syarat kesebelas: pakaian tersebut bukan pakaian pemborosan .
Syarat keduabelas: bukan pakaian yang mencocoki pakaian ahlu bid’ah. Seperti mengharuskan memakai pakaian hitam ketika mendapat musibah sebagaimana yang dilakukan oleh Syi’ah Rofidhoh pada wanita mereka ketika berada di bulan Muharram. Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan bahwa pengharusan seperti ini adalah syi’ar batil yang tidak ada landasannya.
Inilah penjelasan ringkas mengenai syarat-syarat jilbab. Jika pembaca ingin melihat penjelasan selengkapnya, silakan lihat kitab Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani. Kitab ini sudah diterjemahkan dengan judul ‘Jilbab Wanita Muslimah’. Juga bisa dilengkapi lagi dengan kitab Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah yang ditulis oleh Syaikh Amru Abdul Mun’im yang melengkapi pembahasan Syaikh Al Albani.
http://ru maysho.com Muhammad Abduh Tuasikal
Page8
Jika Allah memberikan waktu longgar, kami akan melengkapi pembahasan syarat-syarat pakaian wanita pada posting tersendiri. Semoga Allah memudahkan urusan ini.
Terakhir, kami nasehatkan kepada kaum pria untuk memperingatkan istri, anggota keluarga atau saudaranya mengeanai masalah pakaian ini. Sungguh kita selaku kaum pria sering lalai dari hal ini. Semoga ayat ini dapat menjadi nasehatkan bagi kita semua.
يَا أَيُّهَا انَّزِي آَيَ ىُُا قُىا أَ فَُِسَكُىِ وَأَهِهِيكُىِ اََسّا وَقُىدُهَا ان اَُّسُ وَانْحِجَاسَجُ عَهَيِهَا يَهَائِكَحٌ غِهَاظٌ شِذَادْ نَا يَعِصُى انهَّهَ يَا
أَيَشَهُىِ وَيَفْعَهُى يَا يُؤِيَشُوٌَ
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim: 6)
Semoga Allah memberi taufik kepada kita semua dalam mematuhi setiap perintah-Nya dan menjauhi setiap larangan-Nya.
Alhamdullillahilladzi bi ni’matihi tatimmush sholihat.
Rujukan:
1. Faidul Qodir Syarh Al Jami’ Ash Shogir, Al Munawi, Mawqi’ Ya’sub, Asy Syamilah
2. Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani, Maktabah Al Islamiyah-Amman, Asy Syamilah
3. Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah, Syaikh ‘Amru Abdul Mun’im Salim, Maktabah Al Iman
4. Kasyful Musykil min Haditsi Ash Shohihain, Ibnul Jauziy, Darun Nasyr/Darul Wathon, Asy Syamilah
5. Syarh An Nawawi ‘ala Muslim, An Nawawi, Mawqi’ Al Islam, Asy Syamilah
Panggang, Gunung Kidul, 22 Muharram 1430 H
Yang selalu mengharapkan ampunan dan rahmat Rabbnya: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel http://rumaysho.com

Iklan

RISALAH SUJUD SAHWI

SUJUD SAHWI
Syaikh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin
Pendahuluan
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam, shalawat dan salam semoga tercurah kepada nabi kita Muhammad yang telah menyampaikan risalah dengan jelas, serta kepada keluarga, para sahabat beliau, dan siapa saja yang mengikuti petunjuk beliau sampai hari akhir.
Sesungguhnya banyak di antara kaum muslimin yang belum mengerti tentang masalah hukum-hukum yang berkenaan dengan sujud sahwi dalam shalat. Sebagai contoh ada di antara mereka yang tidak melakukan sujud sahwi di saat yang seharusnya mereka melakukan, dan ada pula yang sebaliknya, mereka melakukannya di saat yang tidak diperlukan. Sebagian di antara mereka juga tidak mengetahui dengan pasti kapan dilakukannya, apakah sebelum atau setelah salam.
Oleh sebab itu mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengan sujud sahwi merupakan hal yang sangat urgen bagi semua orang, terutama mereka yang dipercaya untuk menjadi imam shalat di suatu tempat. Berangkat dari urgensi ini, saya berkeinginan untuk menuliskan sedikit tentang hukum-hukum yang berkenaan dengan masalah sujud sahwi. Tentu dengan harapan agar Allah memberikan manfaat kepada segenap pembaca melalui tulisan saya ini. Dengan memohon taufik dan hidayah-Nya saya akan memulai uraian saya.
Definisi
Sujud sahwi adalah sujud yang dilakukan sebanyak dua kali untuk menutup kesalahan dalam shalat yang disebabkan karena lupa. Ada 3 hal yang mendorong dilakukannya sujud sahwi yaitu kelebihan, kekurangan, atau keraguan di dalam shalat.
A. Kelebihan dalam shalat
Apabila seseorang dengan sengaja menambah sesuatu dalam shalatnya baik berupa gerakan berdiri, duduk, rukuk, atau sujud maka shalatnya dianggap batal (misalnya jika melakukan rukuk dua kali dalam satu rakaat dengan sengaja, pen).
Sedangkan bila dia melakukannya karena lupa dan baru menyadarinya setelah gerakan tambahan tersebut berlalu atau sudah terlewati maka tidak ada yang perlu dilakukan kecuali hanya bersujud dua kali setelah salam dan shalatnya pun dianggap sah. Namun jika dia teringat ketika sedang melakukan gerakan tambahan tersebut, maka dia harus menghentikan gerakan tersebut dan langsung menuju gerakan yang seharusnya kemudian menutup shalatnya dengan sujud sahwi setelah salam.
Contoh :
Seseorang melakukan shalat Zhuhur lima rakaat karena lupa.
• Jika ia menyadari tambahan tersebut ketika sedang duduk tasyahud akhir (di rakaat kelima), maka hendaknya dia menyelesaikan tasyahudnya kemudian salam, kemudian sujud sahwi dua kali lalu salam kembali.
• Jika dia menyadarinya setelah shalat selesai, maka yang harus dilakukan adalah melakukan sujud sahwi dua kali dan diakhiri dengan salam.
• Jika dia menyadarinya pada saat berdiri di rakaat terakhir (rakaat kelima), maka dia harus menghentikannya dan langsung duduk tasyahud. Kemudian sujud sahwi dua kali dilakukan setelah salam.
Landasan hukum masalah ini :
Hadits Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat Zhuhur lima rakaat. Kemudian dikatakan kepada beliau, “Apakah shalatnya (memang sengaja) ditambah?” Beliau menjawab, “Benarkah itu?” Para sahabat mengatakan, “Anda tadi shalat sebanyak 5 rakaat.” Lalu beliau pun sujud sahwi dua kali kemudian salam. Dalam riwayat lain dikatakan, kemudian beliau duduk menghadap kiblat dan sujud dua kali kemudian salam. (Hadits riwayat Al-Jama’ah).
Salam yang dilakukan sebelum shalat sempurna
Melakukan salam sebelum waktunya termasuk dalam kategori kelebihan dalam shalat1. Jika hal ini dilakukan dengan sengaja maka shalatnya dianggap batal. Apabila dia mengerjakannya karena lupa dan baru menyadarinya setelah shalat usai dan sudah terlewat dengan jangka waktu yang lama, maka dia perlu untuk mengulang shalatnya dari awal. Namun jika dia teringat setelah shalat usai dan baru berlalu sebentar kira-kira 2-3 menit misalnya, maka dia harus melanjutkan shalat dan menyempurnakan rakaat yang kurang, kemudian sujud sahwi dilakukan setelah salam.
Landasan hukum masalah ini
Hadits Abu Hurairah radliyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam shalat Zhuhur atau Ashar bersama para sahabat, kemudian beliau salam setelah rakaat kedua dan keluar menuju pintu masjid dengan tergesa-gesa. Para sahabat pun bertanya-tanya, “Apakah shalatnya memang diqashar?” Saat itu Nabi sedang berdiri dengan bersandar di tiang masjid dan sepertinya dalam keadaan marah. Kemudian ada salah seorang yang bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apakah tadi Anda lupa atau memang sengaja mengqashar shalat?” Beliau Shallallahu ‘alaihi wasallam pun bertanya kepada yang lainnya, “Benarkah perkataan orang ini?” Mereka pun menjawab, “Benar.” Kemudian beliau pun melanjutkan shalat dan menyempurnakan (dua) rakaat yang tertinggal dan mengakhiri dengan sujud sahwi setelah salam. (Muttafaqun ‘alaihi).
B. Kekurangan dalam shalat
Kekurangan rukun shalat
Jika seseorang meninggalkan rukun shalat yang berupa takbiratul ihram baik sengaja maupun tidak, maka tidak ada shalat baginya karena shalat yang dilakukan tidak dianggap. Jika rukun yang ditinggalkan adalah selain takbiratul ihram dan dilakukan secara sengaja maka shalatnya pun batal.
Tetapi apabila tidak sengaja atau lupa maka:
• jika dia menyadari kekurangan tersebut setelah sampai pada rakaat berikutnya di bagian rukun yang tertinggal tersebut atau setelahnya, maka rakaat sebelumnya -di mana terdapat rukun yang tertinggal- tidak dianggap dan digantikan oleh rakaat setelahnya
• jika dia menyadarinya sebelum sampai pada rukun yang tertinggal tersebut di rakaat berikutnya, maka dia harus menghentikan gerakannya dan langsung menuju rukun tertinggal yang seharusnya dilakukan kemudian melanjutkan sampai shalat selesai. Rakaat yang terdapat rukun tertinggal tadi tidak dianggap dan digantikan oleh rakaat yang setelahnya
Kedua kondisi di atas mengharuskan sujud sahwi yang dilakukan setelah salam2.
1 Bentuk kelebihannya adalah adanya tambahan salam yang tidak pada tempatnya karena sebenarnya shalat belum usai.
2 Sujud sahwi dilakukan setelah salam karena kasus ini termasuk dalam kategori kelebihan dalam shalat, meski sepintas lalu tampak seperti kekurangan dalam shalat. Bentuk kelebihannya adalah adanya tambahan rakaat yang tidak dianggap dan tergantikan oleh rakaat yang setelahnya, pen.
Contoh kasus pertama3 :
Seseorang lupa membaca Al-Fatihah di rakaat kedua dan baru teringat ketika dia sedang membaca Al-Fatihah di rakaat ketiga. Maka yang harus dilakukan adalah tetap melanjutkan bacaannya sampai rakaat ketiga selesai. Kemudian rakaat kedua tadi terhapus, dan rakaat ketiga dianggap sebagai rakaat kedua. Lalu shalat diakhiri dengan sujud sahwi setelah salam.
Contoh kasus kedua :
Seseorang lupa dan hanya bersujud sekali di rakaat pertama kemudian langsung bangkit menuju rakaat kedua. Ini berarti dia telah meninggalkan dua rukun sekaligus yaitu duduk di antara dua sujud dan sujud kedua. Lalu dia baru menyadari kesalahan ini ketika sedang bangun dari rukuk (i’tidal) di rakaat kedua. Maka yang harus dilakukan adalah segera menghentikan i’tidalnya dan langsung menuju pada rukun yang tertinggal tadi yaitu duduk di antara dua sujud dan sujud kedua. Kemudian rakaat pertama tadi dianggap batal dan digantikan oleh rakaat yang kedua ini. Lalu dia menyelesaikan shalatnya dan mengakhiri dengan sujud sahwi setelah salam.
Contoh lain :
Seseorang yang lupa mengerjakan sujud kedua pada rakaat pertama. Dia baru menyadarinya ketika sedang duduk di antara dua sujud pada rakaat kedua. Maka dia hanya perlu untuk melanjutkan gerakannya sampai shalat usai, sementara rakaat pertama tadi terhapus dan digantikan oleh rakaat kedua. Kemudian shalat diakhiri dengan sujud sahwi setelah salam.
Kekurangan salah satu di antara wajib-wajib shalat4
Apabila seseorang meninggalkan salah satu di antara hal-hal yang wajib dalam shalat dengan sengaja maka shalatnya dianggap batal.
Apabila wajib shalat ditinggalkan karena terlupa maka:
• jika dia menyadarinya sebelum beranjak dari posisi semula5, maka dia hanya perlu untuk menyempurnakan yang terlupa tadi dan tidak perlu melakukan sujud sahwi di akhir shalat
• jika dia menyadarinya setelah beranjak dari posisi semula tetapi belum sempurna menuju gerakan setelahnya, maka hendaknya segera kembali untuk mengerjakan wajib shalat yang terlupa tersebut, kemudian sujud sahwi setelah salam di akhir shalat6
• jika dia menyadarinya setelah sampai pada gerakan setelahnya, maka dia tidak perlu kembali untuk mengerjakan wajib shalat yang terlupa melainkan tetap melanjutkan shalat hingga usai. Kemudian shalat diakhiri dengan sujud sahwi sebelum salam
Contoh :
Seseorang yang lupa untuk mengerjakan tasyahud awal7.
• Jika dia menyadarinya ketika masih dalam posisi duduk istirahat8 maka dia hanya perlu untuk melanjutkan tasyahud awal dan tidak perlu melakukan sujud sahwi di akhir shalat.
• Jika dia menyadarinya setelah beranjak dari duduk istirahat namun belum sempurna berdiri, maka dia hendaknya kembali duduk dan membaca doa
3 Contoh pertama ini adalah tambahan dari penerjemah, bukan dari penulis asli.
4 Di dalam shalat terdapat rukun, wajib, dan sunnah shalat. Rincian masing-masingnya dapat dibaca pada buku-buku fiqih shalat.
5 Yaitu posisi di mana wajib shalat tersebut dilakukan.
6 Karena ada tambahan gerakan kembali ke posisi semula.
7 Tasyahud awal termasuk salah satu di antara wajib-wajib shalat dan bukan merupakan rukun shalat.
8 Dia tidak langsung berdiri setelah sujud kedua di rakaat kedua melainkan duduk istirahat terlebih dahulu.
tasyahud awal. Kemudian dilanjutkan sampai shalat usai dan ditutup dengan sujud sahwi setelah salam.
• Jika dia menyadarinya setelah dalam posisi berdiri sempurna, maka dia tidak perlu untuk kembali duduk dan langsung melanjutkan shalatnya hingga selesai. Shalat diakhiri dengan sujud sahwi sebelum salam.
Landasan hukum masalah ini
Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan yang lainnya, dari Abdullah bin Buhainah radliyallahu ‘anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah mengerjakan shalat Zhuhur bersama para sahabat. Beliau langsung bangkit selepas rakaat kedua tanpa mengerjakan tasyahud awal, dan para sahabat pun ikut berdiri. Ketika mereka sedang menunggu salam di rakaat terakhir, beliau bertakbir untuk mengerjakan sujud sahwi sebelum menutup shalatnya dengan salam.
C. Keraguan dalam shalat
Keraguan yang dimaksud adalah apabila seseorang tidak dapat menentukan secara pasti mana yang benar di antara dua hal. Di dalam semua bentuk ibadah, ada tiga keadaan di mana keraguan dapat diabaikan dan tidak perlu diperhatikan. Tiga keadaan tersebut adalah:
1. jika keraguan tersebut hanyalah berupa perasaan saja yang tidak ada hakikatnya, contohnya adalah was-was.
2. jika keraguan tersebut terjadi pada seseorang yang memang setiap kali mengerjakan segala ibadah tidak pernah terlepas dari keraguan dan selalu merasa ragu-ragu.
3. jika keraguan terjadi setelah ibadah selesai, kecuali jika seseorang merasa yakin akan adanya kesalahan pada ibadah yang telah dia lakukan.
Contoh :
Seseorang yang telah usai mengerjakan shalat Zhuhur merasa ragu apakah tadi dia mengerjakan tiga atau empat rakaat. Dalam kondisi ini hendaknya dia mengabaikan keraguannya dan tidak perlu untuk memikirkannya kembali. Lain halnya jika dia merasa yakin kalau tadi hanya mengerjakan tiga rakaat, maka dia harus menambah satu rakaat kemudian sujud sahwi setelah salam, seperti rincian penjelasan sebelumnya.
Adapun keraguan yang timbul selain pada tiga keadaan di atas, maka keraguan tersebut tidak dapat diabaikan dan perlu untuk diselesaikan. Keraguan yang terjadi pada diri seseorang di dalam shalat ada dua macam:
1. Keraguan di mana seseorang mampu untuk condong kepada salah satu dugaan –meskipun tidak bisa yakin sepenuhnya-. Dalam hal ini dia harus memilih apa yang lebih dia yakini kemudian melanjutkan shalatnya dan menutupnya dengan sujud sahwi setelah salam.
Contoh:
Seseorang yang sedang mengerjakan shalat Zhuhur merasa ragu-ragu apakah saat ini berada di rakaat kedua atau ketiga. Akan tetapi dia lebih condong bahwa saat ini sedang berada di rakaat ketiga meski tidak yakin sepenuhnya. Maka dia harus segera mengakhiri keraguannya dengan cara menganggap bahwa sekarang adalah rakaat ketiga kemudian menyesaikan shalatnya dan menutupnya dengan sujud sahwi setelah salam.
Landasan hukum masalah ini :
Hadits yang terdapat pada Shahih Bukhari Muslim dan kitab lainnya, dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian merasa ragu dalam shalat maka hendaknya ia bersungguh-sungguh untuk memilih yang paling
mendekati kebenaran. Kemudian hendaknya ia menyelesaikan shalatnya dan bersujud dua kali setelah salam.”
2. Keraguan di mana seseorang tidak sanggup untuk condong kepada salah satu pilihan, maka dia harus memilih yang lebih pasti yaitu yang paling sedikit. Kemudian ia melanjutkan shalat dan menutupnya dengan sujud sahwi sebelum salam.
Contoh:
Seseorang merasa ragu di pertengahan shalat Ashar apakah sedang berada di rakaat kedua atau ketiga. Dia tidak mampu untuk condong kepada salah satu dugaannya tersebut. Maka dia harus mengambil yang lebih sedikit yaitu rakaat tersebut dianggap sebagai rakaat kedua. Kemudian dia melanjutkan shalatnya dengan dua rakaat dan menutup shalatnya dengan sujud sahwi sebelum salam.
Landasan hukum masalah ini :
Hadits riwayat Imam Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri radliyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian merasa ragu dalam shalat dan tidak mengetahui apakah sedang berada di rakaat ketiga atau keempat, maka hendaknya ia segera membuang keraguannya dengan cara mengambil yang lebih pasti (yaitu rakaat yang paling sedikit) lalu bersujud dua kali sebelum salam. Jika ternyata ia mengerjakan lima rakaat (setelah mengambil yang paling sedikit) maka kesalahannya telah tertutup dengan sujud sahwi. Namun jika ternyata ia mengerjakan tepat empat rakaat maka setidaknya (sujud sahwinya) dapat menjadi penghinaan bagi syaitan.”
Contoh lain yang berhubungan dengan keraguan dalam shalat
Seorang makmum memasuki shaf ketika imam sedang dalam posisi rukuk. Ia pun segera bertakbiratul ihram dalam posisi berdiri tegak kemudian langsung rukuk. Ada tiga kemungkinan yang dapat terjadi :
• orang tersebut yakin bahwa dia mendapatkan rukuk imam sebelum imam bangkit maka dia dianggap telah mendapatkan rakaat meski tidak membaca Al-Fatihah.
• orang tersebut yakin bahwa imam telah bangkit dari rukuk sebelum ia rukuk dengan sempurna maka ia dianggap tidak mendapatkan rakaat dan harus menyempurnakan rakaat yang kurang setelah imam salam.
• orang tersebut ragu-ragu apakah ia mendapatkan rukuk imam atau tidak (mungkin karena ia rukuk bersamaan dengan bangkitnya imam), maka ia harus berusaha untuk memilih dugaan yang terkuat –apakah dia mendapatkan rukuk imam atau tidak- kemudian mengambilnya, lalu menutup shalatnya dengan sujud sahwi setelah salam. Tetapi bila dia tidak sanggup untuk condong kepada salah satu dugaannya, maka ia harus mengambil yang lebih pasti yaitu anggapan bahwa dia tidak mendapatkan rukuk imam. Kemudian ia menyempurnakan rakaat yang kurang dan menutup shalatnya dengan sujud sahwi sebelum salam.
Perhatian :
Dalam kondisi seperti ini, sujud sahwi hanya dikerjakan apabila orang tersebut masbuq atau tertinggal satu rakaat atau lebih. Bila orang tersebut tidak kehilangan satu rakaatpun, maka tidak perlu sujud sahwi9.
Tentang masalah keraguan dalam shalat, ada dua pendapat di antara para ulama. Pendapat pertama mengatakan, seseorang yang ragu dalam shalat lalu mengatasi keraguan tersebut baik dengan cara memilih yang terkuat atau memilih yang paling sedikit –sesuai dengan rincian sebelumnya-, ternyata kemudian dia merasa yakin dan hilang sama sekali keraguannya dan dapat menyimpulkan bahwa keputusan yang
9 Karena selama imam tidak sujud sahwi, maka makmum yang tidak tertinggal satu rakaat pun tidak perlu mengerjakan sujud sahwi apapun alasannya.
diambil sesuai dengan keadaan yang seharusnya, maka dia tidak perlu sujud sahwi karena keraguan, yang merupakan penyebab sujud sahwi, telah lenyap.
Sedangkan pendapat kedua mengatakan, sujud sahwi tetap dilakukan sebagai bentuk penghinaan bagi syaitan sebagaimana perkataan Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, “…jika ternyata ia mengerjakan tepat empat rakaat maka setidaknya (sujud sahwinya) dapat menjadi penghinaan bagi syaitan.” Karena bagaimanapun juga, keraguan sempat terjadi dalam shalatnya meskipun akhirnya hilang, dan inilah pendapat yang lebih kuat.
Contoh :
Seseorang ragu-ragu di dalam shalat apakah saat ini berada di rakaat kedua atau ketiga dan tidak sanggup untuk condong kepada salah satunya, lalu dia memilih yang lebih pasti yaitu yang paling sedikit. Beberapa saat kemudian hilanglah keraguan tadi dan dia merasa yakin kalau tadi dia memang benar berada di rakaat kedua. Menurut pendapat pertama di atas, dia tidak perlu mengerjakan sujud sahwi karena keraguan telah hilang. Sedangkan menurut pendapat kedua yang kami anggap lebih kuat, dia harus mengerjakan sujud sahwi sebelum salam di akhir shalatnya.
Sujud sahwi bagi makmum
Seorang imam ditunjuk untuk diikuti gerakan-gerakan shalatnya termasuk di antaranya jika dia melakukan sujud sahwi baik sebelum atau setelah salam. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam sebuah hadits, “Sesungguhnya imam itu dijadikan untuk diikuti, oleh karena itu janganlah kalian menyelisihinya…” sampai pada ucapan beliau, “…dan jika dia sujud maka sujudlah kalian.” (Muttafaqun ‘Alaihi)
Akan tetapi tentu saja tidak semua makmum dapat mengikuti sujud sahwi imam dengan serta merta. Hanya makmum yang tidak masbuq saja yang dapat mengikuti dengan serta merta sujud sahwi imam baik yang dikerjakan sebelum atau setelah salam. Sedangkan makmum masbuq tidak mungkin mengikuti dengan serta merta sujud sahwi imam yang dilakukan setelah salam, karena dia harus menyempurnakan terlebih dahulu rakaat yang tertinggal baru kemudian mengakhirinya dengan sujud sahwi setelah salam seperti yang dilakukan oleh imam.
Contoh :
Ada seorang makmum masbuq yang menggabungkan diri ke dalam shaf shalat berjama’ah di rakaat terakhir. Saat itu karena suatu hal, imam memiliki tanggungan untuk melakukan sujud sahwi setelah salam. Ketika shalat berakhir dan imam melakukan salam, maka makmum masbuq tadi harus berdiri untuk melengkapi rakaat yang tertinggal sementara imam dan makmum lain yang tidak masbuq mengerjakan sujud sahwi setelah salam. Setelah dia selesai melengkapi rakaat yang tertinggal, baru kemudian menutupnya dengan sujud sahwi setelah salam meskipun dia sendiri tidak melakukan kesalahan.
Contoh lain dalam shalat berjama’ah:
Seorang imam lupa lalu salam sebelum waktunya. Dia baru teringat kesalahan tersebut sesaat setelah shalat usai dan dia pun segera berdiri untuk menyempurnakan rakaat yang kurang.
Pada saat imam salam (karena lupa) tadi, ada beberapa makmum masbuq yang sudah terlanjur berdiri untuk melanjutkan rakaat yang tertinggal. Maka dalam kondisi ini, para makmum masbuq tadi dapat memilih satu di antara 2 pilihan sebagai berikut:
• tetap melanjutkan rakaat yang tertinggal (sementara imam dan makmum lain melanjutkan kekurangan rakaat) kemudian melakukan sujud sahwi setelah salam
• langsung bergabung kembali dengan jama’ah dan mengikuti apa yang dikerjakan imam (yang sudah kembali berdiri dan melanjutkan shalatnya) sampai selesai. Kemudian setelah imam salam, mereka berdiri untuk melanjutkan rakaat yang
tertinggal (sementara imam melakukan sujud sahwi setelah salam bersama dengan makmum yang tidak masbuq) dan mengakhiri dengan sujud sahwi setelah salam.
Memilih alternatif yang kedua ini dipandang lebih utama dan lebih berhati-hati.
Jika kesalahan terjadi bukan pada imam melainkan pada makmum yang tidak masbuq, maka tidak ada kewajiban sujud sahwi bagi makmum tersebut. Karena jika ia mengerjakan sujud sahwi berarti ia menyelisihi imam, padahal makmum diperintahkan untuk menjaga agar tidak menyelisihi imam. Ketika Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam lupa mengerjakan tasyahud awal, para sahabat pun tidak mengerjakannya dan langsung berdiri menuju rakaat selanjutnya dalam rangka menjaga agar tidak menyelisihi imam.
Akan tetapi jika kesalahan terjadi pada makmum yang masbuq, maka dia berkewajiban untuk melakukan sujud sahwi.
Contoh :
Ada salah seorang makmum yang lupa untuk mengucapkan Subhaana rabbiyal ‘azhiim ketika rukuk, sedangkan dia tidak tertinggal satu rakaat pun. Maka tidak ada kewajiban baginya untuk sujud sahwi. Namun jika dia masbuq atau ada rakaat yang tertinggal, maka dia harus mengakhiri shalatnya dengan sujud sahwi sebelum salam seperti rincian penjelasan sebelumnya.
Contoh lain:
Seorang makmum shalat Zhuhur bersama imam. Ketika imam bangkit dari rakaat ketiga menuju rakaat keempat, makmum tadi lupa dan mengira bahwa rakaat tadi adalah rakaat terakhir sehingga dia duduk tasyahud. Setelah dia melihat imam dan makmum lain berdiri, dia pun ikut berdiri. Jika dia tidak masbuq maka tidak ada kewajiban sujud sahwi baginya. Tetapi apabila dia adalah makmum masbuq maka dia berkewajiban untuk sujud sahwi setelah salam, karena adanya kelebihan atau tambahan gerakan duduk tasyahud yang tidak semestinya tadi.
Kesimpulan
Berdasarkan penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa sujud sahwi terkadang dilakukan sebelum salam dan terkadang setelahnya.
Sebab-sebab dilakukannya sujud sahwi sebelum salam antara lain:
1. Adanya kekurangan dalam shalat sebagaimana hadits dari Abdullah bin Buhainah radliyallahu ‘anhu yang menjelaskan bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam mengerjakan sujud sahwi sebelum salam ketika beliau lupa untuk duduk tasyahud awal. Bunyi hadits selengkapnya terdapat pada penjelasan sebelumnya.
2. Adanya keraguan dalam shalat dan tidak mampu untuk condong kepada salah satu dugaan, seperti yang dijelaskan dalam hadits Abu Sa’id Al-Khudri radliyallahu ‘anhu tentang orang yang ragu apakah sedang berada di rakaat ketiga atau keempat. Kemudian Nabi memerintahkan untuk sujud sahwi sebelum salam. Lafaz hadits selengkapnya sudah tercantum pada penjelasan yang telah lewat.
Sebab-sebab dilakukannya sujud sahwi setelah salam antara lain:
1. Adanya kelebihan atau tambahan dalam shalat seperti yang dijelaskan dalam hadits Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam pernah shalat Zhuhur sebanyak lima rakaat. Kemudian setelah para sahabat menanyakan hal ini, beliau pun bersujud sebanyak dua kali setelah salam.
Termasuk juga dalam kategori kelebihan atau tambahan adalah salam yang dikerjakan sebelum waktunya karena terlupa. Bentuk kelebihannya adalah salam
yang tidak semestinya tadi. Maka yang harus dilakukan setelah menyadari kesalahan tersebut adalah segera bangkit untuk melanjutkan rakaat yang kurang kemudian menutup shalatnya dengan sujud sahwi setelah salam, seperti yang sudah dijelaskan dalam hadits Abu Hurairah sebelumnya.
2. Adanya keraguan dalam shalat akan tetapi mampu untuk condong kepada salah satu dugaan, sebagaimana hadits dari Abdullah bin Mas’ud radliyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk bersungguh-sungguh dalam memilih salah satu dugaan, kemudian melanjutkan shalatnya berdasar dugaan tadi dan mengakhirinya dengan sujud sahwi setelah salam.
Apabila di dalam shalat terkumpul kedua jenis sebab tersebut, yaitu sebab yang mengharuskan sujud sebelum salam dan sebab yang mengharuskan sujud setelah salam, maka para ulama berpendapat untuk memilih sujud sahwi sebelum salam dengan alasan, penyebab sujud sebelum salam dianggap lebih kuat dibanding penyebab sujud setelah salam.
Contoh :
Seseorang sedang shalat Zhuhur. Dia lupa untuk duduk tasyahud awal di rakaat kedua akan tetapi dia justru duduk tasyahud awal di rakaat ketiga karena menyangka rakaat ketiga adalah rakaat kedua. Setelah menyelesaikan tasyahud awalnya itu, dia baru sadar akan kesalahannya. Maka yang harus dilakukan adalah menyempurnakan satu rakaat lagi dan menutup shalatnya dengan sujud sahwi sebelum salam.
Orang tersebut telah melakukan dua jenis penyebab sujud sahwi sekaligus. Dia telah meninggalkan tasyahud awal di rakaat kedua yang mengharuskan untuk sujud sebelum salam, dan menambah dengan duduk tasyahud awal di rakaat ketiga yang mengharuskan sujud setelah salam. Maka berdasar pandangan para ulama, dia harus menutup shalatnya dengan sujud sahwi sebelum salam.
Wallahu a’lam
Semoga Allah membimbing kita dan juga kepada kaum muslimin pada umumnya agar dapat memahami Kitab-Nya dan sunnah-sunnah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wasallam serta dapat mengamalkan ajaran-ajarannya baik dalam hal aqidah, ibadah, maupun muamalah. Saya juga memohon kepada Allah yang Maha Pemurah agar diberikan akhir yang baik untuk kita semua.
Segala puji bagi Allah Rabb semesta alam. Semoga shalawat dan salam terlimpah kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, para keluarganya, dan seluruh sahabatnya.
Ditulis oleh seorang hamba yang sangat membutuhkan ampunan Rabbnya.
4 Rabiul Awal 1400 H
Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.

PEMBAHASAN SEPUTAR LAILATUL QODAR

Kesalahan-kesalahan dan pelanggaranpelanggaran yang dilakukan oleh beberapa kaum muslimin dalam masalah puasa dan shalat tarawih sangat banyak; baik dalam masalah keyakinan, hukum atau perbuatan. Sebagian mengira, bahkan meyakini beberapa masalah yang bukan dari Islam, sebagai rukun Islam. Mereka mengambil sesuatu yang rendah (dalam urusan puasa dan lainnya), sebagai pengganti yang lebih baik, karena mengikuti orang-orang Yahudi. Padahal Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang menyerupai mereka. Bahkan beliau menekankan serta menegaskan, agar (kaum Muslimin) menyelisihi mereka.

Diantara kesalahan ini, ada yang khusus berkaitan dengan lailatul qadar. Kesalahan ini kami bagi menjadi dua bagian.

Pertama : Salah Dalam Berpandangan Dan Berkeyakinan.

Diantaranya:

1. Keyakinan sebagian orang, bahwa lailatul qadar itu memiliki beberapa tanda yang dapat diraih oleh sebagian orang. Lalu orang-orang ini merangkai cerita-cerita khurafat dan khayal. Mereka mengaku melihat cahaya dari langit, atau mereka dibukakan pintu langit dan lain sebagainya.

Semoga Allah merahmati Ibnu Hajar, ketika beliau rahimahullah menyebutkan dalam Fathul Bari 4/266, bahwa hikmah disembunyikannya lailatul qadar, ialah agar timbul kesungguh-sungguhan dalam mencarinya. Berbeda jika malam qadar tersebut ditentukan, maka kesungguhansungguhan hanya sebatas pada malam tertentu itu.

Kemudian Ibnu Hajar menukil riwayat dari Ath-Thabari rahimahullah, bahwa beliau rahimahullah memilih pendapat (yang menyatakan, pent.), semua tanda itu tidaklah harus terjadi. Dan diraihnya lailatul qadar itu tidak disyaratkan harus dengan melihat atau mendengar sesuatu.

Ath Thabari lalu mengatakan,”Dalam hal dirahasiakannya lailatul qadar, terdapat bukti kebohongan orang yang beranggapan, bahwa pada malam itu akan ada hal-hal yang dapat terlihat mata, apa yang tidak dapat terlihat pada seluruh malam yang lain. Jika pernyataan itu benar, tentu lailatul qadar itu akan tampak bagi setiap orang yang menghidupkan malam-malam selama setahun, utamanya malam-malam Ramadhan.”

2. Perkataan sebagian orang, bahwa lailatul qadar itu sudah diangkat (sudah tidak ada lagi, pent). Al Mutawalli, seorang tokoh madzhab Syafi’i dalam kitab At Tatimmah telah menceritakan, bahwa pernyataan itu berasal dari kaum Rafidhah (Syi’ah). Sementara Al Fakihani dalam Syarhul Umdah telah menceritakan, bahwasanya berasal dari madzhab Hanafiyah.

Demikian ini merupakan gambaran rusak dan kesalahan buruk, yang dilandasi oleh pemahaman keliru terhadap sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika ada dua orang yang saling mengutuk pada lailatul qadar,

أِنَّّها رُفِعتْ

“Sesungguhnya lailatul qadar itu sudah terangkat”

Pendalilan (kesimpulan) ini terbantah dari dua segi.

a. Para ulama mengatakan, yang dimaksud dengan kata “terangkat”, yaitu terangkat dari hatiku, sehingga aku lupa waktu pastinya; karena sibuk dengan dua orang yang bertengkar ini.

Dikatakan juga (maksud kata terangkat, pent.), yaitu terangkat barakahnya pada tahun itu. Dan maksudnya, bukanlah lailatul qadar itu diangkat sama sekali. Hal itu ditunjukkan oleh hadits yang dikeluarkan Imam Abdur Razaq rahimahullah dalam Mushannaf-nya 4/252, dari Abdullah bin Yahnus, dia berkata,”Aku berkata kepada Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu,‘Mereka menyangka, bahwa lailatul qadar itu sudah diangkat’,” Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata, “Orang yang mengatakan hal itu telah berbuat bohong.”

b. Keumuman hadits yang mengandung dorongan untuk menghidupkan malam qadar dan penjelasan tentang keutamaannya.

Seperti hadits yang dikeluarkan oleh Imam Bukhari rahimahullah dan lainnya, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ قَامَ لَيْلَة القَدرِ أِعيمَا نًا واحتسَابًا غُفِرَلَهُ مَا تَقَدَّّّمَ مِنْ ذَنْبهِ

“Barangsiapa yang shalat pada lailatul qadar karena iman dan karena mengharapkan pahala, maka dia diampuni dosanya yang telah lewat”.

Imam Nawawi rahimahullah mengatakan,”Ketahuilah,bahwa lailatul qadar itu ada. Dan lailalatul qadar itu terlihat. Dapat dibuktikan oleh siapapun yang dikehendaki dari keturunan Adam, (pada) setiap tahun di bulan Ramadhan, sebagaimana telah jelas melalui hadits-hadits ini, dan melalui beritaberita dari orang shalih tentang lailatul qadar. Penglihatan orang-orang shalih tersebut tentang lailatul qadar tidak bisa dihitung.”

Saya (Syaikh Masyhur) mengatakan: Ya, kemungkinan diketahuinya lailatul qadar itu ada. Banyak tanda-tanda yang telah diberitahukan oleh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa lailatul qadar itu, adalah satu malam diantara malam-malam Ramadhan. Dan mungkin, demikian ini maksud perkataan Aisyah radhiyallahu a’nha pada hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi, dan beliau menshahihkannya,

قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّّهِ أَرَأَيْت أِنْ عَلِمْتُ أَيَّّ لَيْلةُ الْقَدْر مَا أَقُو لُ فِيهَا

“Aku Katakan,”Wahai Rasulullah, jika aku mengetahui (adanya) malam itu (sebagai) lailatul qadar, apa yang kuucapkan pada malam itu?”

Dalam hadits ini -sebagaimana dikatakan Imam Syaukani rahimahullah dalam Nailul Authar 3/303 terdapat bukti, kemungkinan lailatul qadar dapat diketahui dan (juga bukti, pent.) tentang tetap adanya malam itu.”

Az Zurqani rahimahullah mengatakan dalam syarah Muwaththa’ 2/491, “Barangsiapa yang menyangka, bahwa makna –yang terdapat pada hadits di atas, (yaitu) lailatul qadar sudah diangkat- yakni sudah tidak ada lagi, maka dia keliru. Kalau seandainya benar seperti itu, tentulah kaum muslimin tidak diperintahkan untuk mencarinya. Hal ini dikuatkan oleh kelanjutan hadits,

عَسَى أَنْ يَكُوْنَ خَيْرًا لَكمْ

“Semoga (dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu, pent.) [1] menjadi lebih baik bagi kalian”.

Karena dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu, menyebabkan orang tertuntut untuk melaksanakan qiyamul lail selama satu bulan penuh. Hal ini berbeda jika pengetahuan tentang waktunya dapat diketahui secara jelas”.

Kesimpulannya, lailatul qadar tetap ada sampai hari kiamat. Sekalipun penentuan tepatnya kejadian tersebut dirahasiakan, dalam arti, tetap tidak dapat menghilangkan kesamaran dan ketidakjelasan tentang waktunya.

Meskipun pendapat yang rajih (terkuat), bahwa lailatul qadar ada pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan dan dalil-dalil menguatkan, bahwasanya dia adalah malam duapuluh tujuh, akan tetapi memastikannya dengan cara yang yakin merupakan perkara sulit. Allahu a’lam.

Kedua : Kesalahan-Kesalahan Dalam Amal Perbuatan Dan Tingkah Laku.

Kesalahan-kesalahan yang dilakukan manusia pada lailatul qadar itu banyak sekali. Hampir tidak ada yang bisa selamat, kecuali yang dipelihara Allah.

Diantaranya,

1. Mencari dan menyelidiki keberadaannya dan tersibukkan dengan mengintai tanda-tanda lailatul qadar, sehingga lalai beribadah ataupun berbuat taat pada malam itu.

Betapa banyak orang-orang yang shalat, kita lihat diantara mereka lupa membaca Al Qur’an, dzikr dan lupa mencari ilmu karena urusan ini. Engkau dapati salah seorang diantara mereka –menjelang terbitnya matahari memperhatikan matahari untuk mengetahui, apakah sinar matahari ini terik ataukah tidak? Mestinya, orang-orang ini memperhatikan pesan yang terdapat pada sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

عَسَى أَنْ يَكُوْنَ خَيْرًا لَكمْ

“Semoga (dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu, pent.) menjadi lebih baik bagi kalian”.

Dalam hadits ini terdapat isyarat, bahwa malam itu tidak ditentukan. Para ahli ilmu menarik kesimpulan dari sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa dirahasiakannya waktu lailatul qadar itu lebih baik. Mereka mengatakan, “Hikmah dalam hal itu, agar seorang hamba bersungguh-sungguh dan memperbanyak amal pada tiap-tiap malam dengan harapan agar bertepatan dengan lailatul qadar. Berbeda jika lailatul qadar itu (telah) ditentukan. Maka, sungguh amal itu hanya akan diperbanyak (pada) satu malam saja, sehingga ia luput dari beribadah pada malam lainnya, atau berkurang. Bahkan sebagian ahli ilmu mengambil satu faidah dari sabda Nabi Shallallalhu ‘alaihi wa sallam tersebut, bahwa sebaiknya orang yang mengetahui lailatul qadar itu menyembunyikannya -berdasarkan dalil- bahwa Allah Azza wa Jalla telah mentaqdirkan kepada NabiNya Shallallahu ‘alaihi was allam untuk tidak memberitakan ketepatan waktunya. Sedangkan semua kebaikan ada pada apa yang telah ditaqdirkan bagi Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Maka, merupakan sunnah untuk mengikuti beliau dalam hal ini.

Dari uraian di atas, dapat diketahui kekeliruan orang-orang dalam giatnya mereka shalat secara khusus, atau beribadah secara umum pada malam ke duapuluh tujuh, dengan memastikan atau seakan memastikan, bahwa malam itu adalah lailatul qadar, kemudian meninggalkan shalat dan tidak bersungguhsungguh berbuat taat pada malam-malam lainnya.

Persangkaannya, bahwa mereka hanya akan mendapatkan ganjaran ibadah lebih dari seribu bulan ketika menghidupkan malam ini (malam duapuluh tujuh, pent.) saja.

Kekeliruan ini membuat banyak orang melampaui batas dalam berbuat taat pada malam ini. Anda bisa lihat, diantara mereka ada yang tidak tidur, bahkan tidak henti-hentinya shalat dengan memaksakan diri tanpa tidur. Bahkan mungkin ada sebagian yang shalat, lalu memperlama shalatnya, sementara dia berjuang keras melawan kantuknya. Dan sungguh, kami pernah melihat diantara mereka ada yang tidur dalam sujud.

Dalam hal ini, satu sisi merupakan pelanggaran terhadap petunjuk Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasalam yang melarang kita melakukan hal itu. Pada sisi lainnya, itu merupakan beban dan belenggu yang telah dihilangkan dari kita -berkat karunia dan nikmatNya Azza wa Jalla .

2. Diantara kesalahan sebagian kaum muslimin pada malam ini, yaitu sibuk mengatur acara, menyampaikan ceramah. Sebagian lagi sibuk dengan nasyid-nasyid dan nyanyian puji-pujian, sehingga lalai berbuatan taat. Anda bisa saksikan, ada orang yang begitu bersemangat, berkeliling ke masjid-masjid dengan menyampaikan berita terkini, serta bagaimana upaya pemecahannya. Itu dilakukan hingga menyebabkan pemanfaatan malam itu keluar dari apa yang dimaksudkan syari’at.

3. Diantara kekeliaruan mereka juga, yaitu mengkhususkan sebagian ibadah pada malam itu seperti shalat khusus lailatul qadar.

Sebagian lagi senantiasa mengerjakan shalat Tasbih secara berjama’ah tanpa hujjah. Sebagian lagi -pada malam ini- melaksanakan shalat hifzhul Qur’an, padahal tidak ada dasarnya.

Pelanggaran-pelanggaran dan kekeliruan yang berkaitan dengan lailatul qadar –yang dilakukan banyak kaum muslimin- sangat beragam dan banyak sekali. Kalau kita kumpulkan dan kita selidiki, maka tentu pembicaraan ini menjadi panjang. Apa yang kami sampaikan disini, baru sebagian kecil saja. (Insya Allah) bermanfaat bagi penuntut ilmu, pendamba kebenaran dan pencari al haq.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 05/Tahun V/1422/2001M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-7574821]

________

Footnote

[1]. Syarah shahih Muslim. Bab Fadlu Lailatul Qadar

Komentar AHSI

Cara mengintai lailatul qadar menurut Kitab “Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam Fii Ramadhan” oleh Syaikh Salim bin Ied Al-Hilaaly, Syaikh Ali Hasan Abdul Hamid disarankan sebagai berikut:

Saudaraku —semoga Allah memberkahimu dan memberi taufiq kepadamu untuk mentaati-Nya— engkau telah mengetahui bagaimana keadaan malam Lailatul Qadar (dan keutamaannya) maka bangunlah (untuk menegakkan shalat) pada sepuluh malam terakhir, menghidupkannya dengan ibadah dan menjauhi wanita, perintahkan kepada isterimu dan keluargamu untuk itu, perbanyaklah perbuatan ketaatan.

Dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha.

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Artinya: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, apabila masuk pada sepuluh hari (terakhir bulan Ramadhan), beliau mengencanngkan kainnya menghidupkan malamnya dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari 4/233 dan Muslim 1174)

Lafal شَدَّ مِئْزَرَهُ beliau mengencanngkan kainnya artinya Menjauhi wanita (yaitu istri-istrinya) karena ibadah.

Juga dari Aisyah, (dia berkata) :

قَالَتْ عَائِشَةُ رضى الله عنها كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ.

Artinya: “Adalah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersungguh-sungguh (beribadah apabila telah masuk) malam kesepuluh (terakhir) yang tidak pernah beliau lakukan pada malam-malam lainnya.” (HR. Muslim 1174)

Cara Mengintai Lailatul Qadar?

Lailatul Qadar adalah malam kebaikan, yang kebaikan di dalamnya tak bisa didapatkan pada malam selainnya. Maka siapa yang terhalang dari mendapatkan kebaikan di dalamnya, berarti ia telah terhalang mendapatkan semua kebaikan. Dan tidak terhalang dari mendapatkan kebaikannya, kecuali orang yang diharamkan dirinya dari kebaikan. Oleh karena, itu sudah sewajarnya seorang muslim menghidupkan malam tersebut dengan bersungguh-sungguh melakukan ibadah dan ketaatan kepada Allah dengan maksimal. Dan menghidupkannya harus didasarkan kepada iman dan berharap pahala kepada Allah. Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang menunaikan shalat malam di bulan Ramadan imanan wa ihtisaban (dengan keimanan dan mengharap pahala), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Kesungguhan dalam mencari Lailatul Qadar ini telah dimulai sendiri oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam yang mengabarkan hadits di atas. Diriwayatkan dari AisyahRadhiyallahu ‘Anha yang berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersungguh-sungguh (pad sepuluh hari terakhir) yang tidak biasa beliau lakukan pada malam-malam sebelumnya.” (HR. Muslim)

Hendaknya seorang muslim memperbanyak shalat, tilawatul Qur’an, shadaqah, dzikir dan doa di dalamnya. Dianjurkan juga untuk menjauhi istri untuk memaksimalkan ibadah di malam itu, serta membangunkan keluarganya untuk ikut menghidupkan malam kemuliaan tersebut. Dikabarkan oleh AisyahRadhiyallahu ‘Anha,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ – أَيْ الْعَشْرُ الْأَخِيرَةُ مِنْ رَمَضَانَ – شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

Adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, apabila sudah masuk sepuluh –maksudnya sepuluh hari terakhir Ramadhan- beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya.” (Muttafaq ‘alaih)

. . . Hendaknya seorang muslim memperbanyak shalat, tilawatul Qur’an, shadaqah, dzikir dan doa pada Lailatul Qadar. . .

Apa Doa yang Dipanjatkan Pada Malam Itu?

Dianjurkan untuk membanyak doa pada malam yang agung ini, Lailatul Qadar. Doa apa saja yang mengandung kebaikan dunia dan akhirat, dianjurkan untuk dimunajatkan kepada Allah di malam itu, karena ia termasuk waktu mustajab. Dan di antara doa khusus yang disyariatkan untuk dibaca di dalamnya adalah apa yang diriwayatkan dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, ia berkata: “Wahai Rasulullah, bagaimana menurutmu jika aku mendapatkan Lailatul Qadar, apa yang harus aku baca?” BeliauShallallahu ‘Alaihi Wasallam menjawab, “Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ إنَّك عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Mahapemaaf dan senang memaafkan, maka maafkanlah kesalahanku.” (HR. al-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad. Imam al-Tirmidzi dan al-Hakim menshahihkannya)

Misteri

Sampai sekarang gak bisa di tebak jatuhnya tanggal berapa lailatul qodar tiba, yang jelas malam ganjil 10 hari terakhir. Kenapa? hikmah kenapa Allah Ta’ala menyembunyikan pengetahuan tentang terjadinya malamLailatul Qadar adalah agar terbedakan antara orang yang sungguh-sungguh untuk mencari malam tersebut dengan orang yang malas. Karena orang yang benar-benar ingin mendapatkan sesuatu tentu akan bersungguh-sungguh dalam mencarinya. Hal ini juga sebagai rahmat Allah agar hamba-hambaNya memperbanyak amalan pada hari-hari tersebut, dengan demikian mereka akan semakin bertambah dekat dengan-Nya dan akan memperoleh pahala yang sangat banyak. Semoga Allah memudahkan kita memperoleh malam yang penuh keberkahan itu. Karena penyakit besar yang menimpa umat Islam yang menyebabkan malam-malam ramadhan menjadi lesu sebab mereka hanya menanti malam yang dianggap malam lailatul qadar saja untuk beribadat. Kerana mengejar kelebihan Lailatul Qadar dimana kita tidak mengetahui masanya hingga menyebabkan terlepas dengan kelebihan ramadhan itu sendiri yang hanya datang setahun sekali.

Di ambil dari grup facebook ISLAMIC CENTER DAARUSSUNNAH WANGON

BEGINILAH KUBURAN YANG SESUAI SUNNAH

Inilah kuburan yg benar2 syar’i dan dicontohkan sesuai dengan aqidah Ahlus Sunnah. Tanpa dibangun / dikeramik, ditulisi, ditinggikan kecuali hanya sejengkal, dan tanpa disembah atau diagungkan. Mudah2an calon rumah kita seperti ini semua, tdk seperti kebanyakan kuburan yg ada di sekeliling kita.
Padahal kuburan yg ada di foto ini adalah …kuburannya orang2 yang memiliki keutamaan di sisi Allah, yaitu kuburannya para Shahabat Nabi radhiyallahu anhum di Baqi’, Madinah. Kuburannya tidak lebih bagus dari kuburannya pak RT atau pak Lurah atau Kyai di tempat kita. Seperti inilah yang dapat membuat Islam bertambah Kejayaannya. Subhanallah

Dari Abu Al-Hayyaj Al-Asadi dia berkata: Ali bin Abu Thalib berkata kepadaku:
أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ لَا تَدَعَ تِمْثَالًا إِلَّا طَمَسْتَهُ وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ

“Maukah kamu aku utus sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah mengutusku? Hendaklah kamu jangan meninggalkan gambar-gambar kecuali kamu hapus dan jangan pula kamu meninggalkan kuburan kecuali kamu ratakan.” (HR. Muslim no. 969)
Fadhalah bin Ubaid radhiallahu anhu berkata:
سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِتَسْوِيَتِهَا

“Saya telah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk meratakannya (kuburan).” (HR. Muslim no. 968)
Dari Jabir bin Abdillah radhiallahu anhuma dia berkata:
نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mengapur kuburan, duduk di atasnya, dan membuat bangunan di atasnya.” (HR. Muslim no. 970)
Al-Imam At-Tirmidzi dan yang lain meriwayatkan dengan sanad yang shahih dengan tambahan lafadz:وَأَنْ يُكْتَبَ عَلَيْهِ“dan ditulisi.”

Al-Imam Asy-Syaukani rahimahullahu menerangkan: “Ketahuilah bahwa kaum muslimin yang dahulu dan akan datang, yang awal dan akhir, sejak zaman sahabat sampai waktu kita ini, telah bersepakat bahwa meninggikan kuburan dan membangun di atasnya… termasuk perkara bid’ah, yang telah ada larangan dan ancaman keras dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam atas para pelakunya.”

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata: “Aku menginginkan kuburan itu tidak dibangun dan tidak dikapur (dicat), karena perbuatan seperti itu menyerupai hiasan atau kesombongan, sedangkan kematian bukanlah tempat salah satu di antara dua hal tersebut. Aku tidak pernah melihat kuburan Muhajirin dan Anshar dicat. Perawi berkata dari Thawus: ‘Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kuburan dibangun atau dicat’.”

Beliau rahimahullahu juga berkata: “Aku membenci dibangunnya masjid di atas kuburan.”
Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullahu berkata pula: “Aku membenci ini berdasarkan Sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan atsar…”

Asy-Syaikh Sulaiman Alu Syaikh rahimahullahu berkata: “Al-Imam Nawawi rahimahullahu menegaskan dalam Syarh Al-Muhadzdzab akan haramnya membangun kuburan secara mutlak. Juga beliau sebutkan semisalnya dalam Syarh Shahih Muslim.”

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu.
“Bahwa Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam telah dibuatkan untuk beliau liang lahad dan diletakkan di atasnya batu serta ditinggikannya di atas tanah sekitar satu jengkal” (HR. Ibnu Hibban dalam kitab Shahiihnya no. 2160 dan al Baihaqi III/410, hadits ini sanadnya hasan)

Dari Sufyan at Tamar, dia berkata,
“Aku melihat makam Nabi ShallallaHu ‘alaiHi wa sallam dibuat gundukkan seperti punuk” (HR. al Bukhari III/198-199 dan al Baihaqi IV/3)

Ibnul Qayyim berkata dalam kitabnya Zaadul Ma’aad, “Dan makam beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam digunduki tanah seperti punuk yang berada di tanah lapang merah. Tidak ada bangunan dan tidak juga diplester. Demikian itu pula makam kedua sahabatnya (Abu Bakar dan Umar)”

Hal tsb menunjukkan bhw kuburan Nabi tidaklah dibangun seperti bangunan sekarang ini pada awalnya. Jadi dibangunnya kuburan Nabi bukanlah hujjah yg dpt dipakai, kecuali jika yg membangunannya tsb adalah para shahabat nabi dan atas ijma mrk. Wallahu a’lam.

Syaikh Albani ditanya :
“Kuburan Nabi saw ada di dalam Masjid beliau, yang dapat disaksikan hingga saat ini. Kalau memang hal ini dilarang, lalu mengapa beliau dikuburkan disitu ?

Jawabannya:
…Keadaan yang kita saksikan pada jaman sekarang ini tidak seperti yang terjadi pada jaman sahabat. Setelah beliau wafat, mereka menguburkannya didalam biliknya yang letaknya bersebelahan dengan masjid, dipisahkan oleh dinding yang ada pintunya. Beliau biasa masuk masjid lewat pintu itu.

Hal ini telah disepakati oleh semua ulama, dan tidak ada
pertentangan diantara mereka. Para sahabat mengubur jasad beliau didalam biliknya, agar nantinya orang-orang sesudah mereka tidak menggunakan kuburan beliau sebagai tempat untuk shalat, seperti yang sudah kita terangkan dalam hadits ‘Aisyah dibagian muka. Tapi apa yang terjadi dikemudian hari di luar perhitungan mereka. Pada tahun
88 Hijriah, Al Walid bin Abdul Malik merehab masjid Nabi dan
memperluas masjid hingga kekamar ‘Aisyah. Berarti kuburan beliau masuk ke dalam area masjid. Sementara pada saat itu sudah tidak ada satu sahabatpun yang masih hidup, sehingga dapat menentang tindakan Al Walid ini seperti yang diragukan oleh sebagian manusia.

Al Hafizh Muhamad Abdul-Hady menjelaskan didalam bukunya Ash-Sharimul Manky: “Bilik Rasulullah masuk dalam masjid pada jaman Al Walid bin Abdul Malik, setelah semua sahabat beliau di Madinah meninggal. Sahabat terakhir yang meninggal adalah Jabir bin Abdullah. Ia meninggal pada jaman Abdul Malik, yang meninggal pada tahun 78
Hijriah. Sementara Al Walid menjadi khalifah pada tahun 86
Hijriah, dan meninggal pada tahun 96 Hijriah. Rehabilitasi masjid dan memasukkan bilik beliau kedalam masjid, dilakukan antara tahun-tahun itu.

Abu Zaid Umar bin Syabbah An Numairy berkata di dalam buku karangannya Akhbarul-Madinah: “Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi gubernur Madinah pada tahun 91 Hijriah, ia meribohkan masjid lalu membangunnya lagi dengan menggunakan batu-batu yang diukir, atapnya terbuat dari jenis kayu yang bagus. Bilik istri-istri Nabi saw dirobohkan pula lalu dimasukkan kedalam masjid. Berarti kuburan beliau juga masuk kedalam masjid.”

Dari penjelasan ini jelaslah sudah bahwa kuburan beliau masuk menjadi bagian dari masjid nabawi, ketika di Madinah sudah tidak ada seorang sahabatpun. Hal ini ternyata berlainan dengan tujuan saat mereka menguburkan jasad Rasulullah di dalam biliknya.

Maka setiap orang muslim yang mengetahui hakikat ini, tidak boleh berhujjah dengan sesuatu yang terjadi sesudah meninggalnya para sahabat. Sebab hal ini bertentangan dengan hadits-hadits shahih dan pengertian yang diserap para sahabat serta pendapat para imam.

Hal ini juga bertentangan dengan apa yang dilakukan Umar dan Utsman ketika meluaskan masjid Nabawi tersebut. Mereka berdua tidak memasukkan kuburan beliau ke dalam masjid.

Maka dapat kita putuskan, perbuatan Al Walid adalah salah. Kalaupun ia terdesak untuk meluaskan masjid Nabawi, toh ia bisa meluaskan dari sisi lain sehingga tidak mengusik kuburan beliau. Umat bin Khattab pernah mengisyaratkan segi kesalahan semacam ini. Ketika meluaskan masjid, ia mengadakan perluasan di sisi lain dan tidak mengusik kuburan beliau. Ia berkata: “Tidak ada alasan untuk
berbuat seperti itu.” Umar memberi peringatan agar tidak merobohkan masjid, lalu memasukkan kuburan beliau ke dalam masjid.

Karena tidak ingin bertentangan dengan hadits dan kebiasaan khulafa’urrasyidin, maka orang-orang Islam sesudah itu sangat berhati-hati dalam meluaskan masjid Nabawi. Mereka mengurangi kontroversi sebisa mungkin. Dalam hal ini An-Nawawi menjelaskan di dalam Syarh Muslim: “Ketika para sahabat yang masih hidup dan tabi’in merasa perlu untuk meluaskan masjid Nabawi karena banyaknya
jumlah kaum muslimin, maka perkuasan masjid itu mencapai rumah Ummahatul-Mukminin, termasuk bilik ‘Aisyah, tempat dikuburkannya Rasulullah dan juga kuburan dua sahabat beliau, Abubakar dan Umar.
Mereka membuat dinding pemisah yang tinggi disekeliling kuburan, bentuknya melingkar. Sehingga kuburan tidak langsung nampak sebagai bagian dari masjid. Dan orang-orangpun tidak shalat ke arah kuburan itu, sehingga merekapun tidak terseret pada hal-hal yang
dilarang.

Ibnu Taimiyah dan Ibnu Rajab yang menukil dari l-Qurthuby, menjelaskan: “Ketika bilik beliau masuk ke dalam masjid, maka
pintunya di kunci, lalu disekelilingnya dibangun pagar tembok yang tinggi. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga agar rumah beliau tidak dipergunakan untuk acara-acara peringatan dan kuburan beliau dijadikan patung sesembahan.”

Dapat kami katakan: Memang sangat disayangkan bangunan tersebut sudah didirikan sejak berabad-abad di atas kuburan Nabi saw. Disana ada kubah menjulang tinggi berwarna hijau, kuburan beliau dikelilingi jendela-jendela yang terbuat dari bahan tembaga, berbagai hiasan dan tabir. Padahal semua itu tidak diridhai oleh orang yang dikuburkan disitu, yaitu Rasulullah saw. Bahkan ketika kami berkunjung kesana, kami lihat disamping tembok sebelah utara terdapat mihrab kecil. Ini merupakan isyarat bahwa tempat itu dikhususkan untuk shalat dibelakang kuburan . Kami benar-benar heran. Bagaimana bisa terjadi paganisme yang sangat mencolok ini
dibiarkan begitu saja oleh suatu negara yang mengagung-agungkan masalah tauhid ?

Namun begitu kami mengakui secara jujur, selama disana kami tidak meliahat seorangpun mendirikan shalat didalam mihrab itu. Para penjaga yang sudah ditugaskan disana mengawasi secara ketat agar mencegah manusia yang datang kesana dan melakukan suatu yang bertentangan dengan syariat disekitar kuburan Nabi saw. Ini merupakan suatu yang perlu disyukuri atas sikap pemerintah Saudi.
Tetapi ini belum cukup dan tidak memberikan jalan keluar yang tuntas. Tentang hal ini sudah lama kami katakan di dalam buku Ahkamul Jana’ iz wa Bida’uha: “Seharusnya masjid Nabawi dikembalikan ke jamannya semula, yaitu dengan membuat tabir pemisah antara kuburan dengan masjid, berupa tembok yang membentang dari uatara ke
selatan. Sehingga setiap orang yang masuk ke masjid tidak dikejar oleh macam-macam pertentangan yang tidak diridhai pendirinya. Kami merasa yakin, ini merupakan kewajiban pemerintah Saudi, kalau ia masih ingin menjaga tauhid yang benar. Andaikata ada rencana perluasan kembali, maka bisa melebar kesebelah barat atau sisi lainnya. Tapi ketika diadakan perbaikan lagi, ternyata masjid Nabawi tidak dikembalikan ke bentuknya yang pertama pada jaman sahabat.”

[Oleh Syeikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, diambil dari
Buku “Peringatan ! Menggunakan Kuburan Sebagai Masjid” Bab. IV/Hal.50-83]

BAHAYA FITNAH TAKFIR

Dunia Islam dan kaum muslimin dewasa ini cukup menyedihkan. Tuduhan demi tuduhan dilemparkan musuh-musuh Allah Subhanahu wa Ta’ala, akibat ulah sebagian kelompok kaum muslimin. Musuh-musuh Islam terus mengintai negara dan masyarakat Islam; mengintai kapan kaum muslimin berbuat salah, kapan menjadi materialis dan kapan cinta dunia menguasainya.

Akhirnya, masa-masa yang ditunggupun tiba. Kaum muslimin hidup bergelimang dunia dan dosa. Kebodohan menjadi ciri mereka, menyebabkan keluar dan menyelisihi syariat. Tanpa sadar membuat kerusakan di bumi dan seisinya. Padahal sesuatu yang menyelisihi, pasti berbahaya; apalagi dalam permasalahan agama.

Kehinaan dan fitnah pun melanda kaum muslimin, sebagai konsekwensi akibat melanggar dan jauhnya mereka dari syariat RasulNya.

Allah berfirman,

فَلْيَحْذَرِ الَّذِينَ يُخَالِفُونَ عَنْ أَمْرِهِ أَن تُصِيبَهُمْ فِتْنَةٌ أَوْ يُصِيبَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintah Rasul takut akan ditimpa cobaan atau ditimpa adzab yang pedih”. [An Nur:63].

Bermunculanlah penyakit dan fitnah dalam tubuh kaum muslimin. Membuat mereka bingung, sedih dan berpecah-belah. Semoga Allah mengembalikan dan mempersatukan kaum muslimin di atas ajaran agama Islam yang benar.

Diantara fitnah yang muncul dan sangat berbahaya dalam tubuh kaum muslimin, yaitu fitnah takfir. Takfir ialah vonis kafir terhadap orang lain yang menyimpang dari syari’at Islam. Fitnah ini berawal dari munculnya sekte Khawarij pada zaman Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu. Fitnah ini pernah mengguncang dunia Islam. Menumpahkan ribuan, bahkan jutaan darah kaum muslimin. Telah banyak harta dan jiwa yang dikorbankan kaum muslimin untuk meredam fitnah ini

Lihatlah, sejak pembunuhan khalifah dan menantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu, disusul dengan terbunuhnya khalifah dan menantu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘anhu, hingga pemberontakan mereka terhadap negara Islam Bani Umayyah dan Abbasiyah, serta negara-negara Islam hingga saat ini. Sehingga Dr. Ghalib bin Ali Al ‘Awajiy menyatakan,“Khawarij merupakan salah satu firqah besar yang melakukan revolusi berdarah dalam sejarah politik Islam. Mereka telah menyibukkan negara-negara Islam dalam waktu yang sangat panjang sekali.” [1]

Pertama kali muncul, mereka mencela sebaik-baiknya orang shalih waktu itu. Yaitu Khalifah Ali Radhiyallahu ‘anhu. Bukanlah satu hal aneh, karena tokoh pertama mereka yang bernama Dzul Khuwaishirah telah mencela sebaik-baiknya makhluk Allah, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dikisahkan dalam riwayat dibawah ini :

أَنَّ أَبَا سَعِيدٍ الْخُدْرِيَّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ بَيْنَمَا نَحْنُ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يَقْسِمُ قِسْمًا أَتَاهُ ذُو الْخُوَيْصِرَةِ وَهُوَ رَجُلٌ مِنْ بَنِي تَمِيمٍ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ اعْدِلْ فَقَالَ وَيْلَكَ وَمَنْ يَعْدِلُ إِذَا لَمْ أَعْدِلْ قَدْ خِبْتَ وَخَسِرْتَ إِنْ لَمْ أَكُنْ أَعْدِلُ فَقَالَ عُمَرُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ائْذَنْ لِي فِيهِ فَأَضْرِبَ عُنُقَهُ فَقَالَ دَعْهُ فَإِنَّ لَهُ أَصْحَابًا يَحْقِرُ أَحَدُكُمْ صَلَاتَهُ مَعَ صَلَاتِهِمْ وَصِيَامَهُ مَعَ صِيَامِهِمْ يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ تَرَاقِيَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الدِّينِ كَمَا يَمْرُقُ السَّهْمُ مِنْ الرَّمِيَّةِ

“Sesungguhnya Abu Sa’id Al Khudri bercerita,”Ketika kami bersama Rasululluh Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau membagi-bagikan sesuatu. Datanglah Dzul Khuwaishirah seorang yang berasal dari Bani Tamim kepada beliau, lalu berkata,’Wahai Rasulullah berbuat adillah!’ Lalu beliau menjawab,’Celaku kamu, siapakah yang berbuat adil, jika aku tidak berbuat adil? Engkau telah rugi dan celaka jika aku tidak adil’. Umar berkata,’Wahai Rasulullah izinkanlah aku memenggal lehernya’. Beliau menjawab,’Biarkan dia! Sesungguhnya dia memiliki pengikut. Salah seorang dari kalian akan meremehkan sholatnya dibanding sholat mereka dan puasanya dibanding puasa mereka. Mereka membaca Al Qur’an, tapi hanya ditenggorokan mereka saja. Mereka meninggalkan agama, sebagaimana anak panah keluar dari busurnya’.” [Mutafaqun alaihi].

Nampaklah, bahwa kemunculan Khawarij berawal dari persoalan harta dan penentangan terhadap pemimpin. Sungguh benar sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

إِنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ فِتْنَةً وَفِتْنَةُ أُمَّتِي الْمَالُ

“Sesungguhnya setiap umat memiliki fitnah, dan fitnah umatku adalah harta”.

Dzul Khuwaishirah menentang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan slogan keadilan. Menuntut keadilan, hak dan persamaan. Dia menuduh Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berbuat tidak adil, sehingga menuntut Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan keadaan pengikutnya.

Tuduhan dan tuntutan seperti ini ditujukan kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tentunya, kepada orang yang berada dibawah (sesudah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam), dari para penguasa dan wali amri kaum muslimin lebih gampang dan mudah bagi mereka menyampaikan tuntutannya. Ketika pengikut Dzul Khuwaishirah muncul pada zaman Ali bin Abi Thalib, juga karena persoalan harta dan penentangan mereka terhadap kebijakan Khalifah Ali Radhiyallahu ‘anhu [2]. Setelah itu, mereka mengkafirkan pelaku dosa besar, menghalalkan darah dan harta kaum muslimin seluruhnya, kecuali anggota sektenya. Inilah yang melandasi pemberontakan mereka dan membunuh orang-orang yang tidak bersalah. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan dalam haditsnya,

إِنَّ مِنْ ضِئْضِئِ هَذَا قَوْمًا يَقْرَءُونَ الْقُرْآنَ لَا يُجَاوِزُ حَنَاجِرَهُمْ يَمْرُقُونَ مِنْ الْإِسْلَامِ مُرُوقَ السَّهْمِ مِنْ الرَّمِيَّةِ يَقْتُلُونَ أَهْلَ الْإِسْلَامِ وَيَدَعُونَ أَهْلَ الْأَوْثَانِ لَئِنْ أَنَا أَدْرَكْتُهُمْ قَتَلْتُهُمْ قَتْلَ عَادٍ

“Sesungguhnya di belakang orang ini akan lahir satu kaum yangmembaca Al Qur’an, tetapi tidak melewati kerongkongan mereka. Mereka lepas dari Islam, seperti lepasnya anak panah dari busurnya. Mereka membunuh kaum muslimin dan membiarkan penyembah berhala. Sungguh, jika aku mendapatkan mereka, niscaya aku bunuh mereka dengan cara pembunuhan kaum ‘Ad”.[3]

Dan dalam riwayat yang lainnya:

هُمْ شَرُّ قَتْلَى قُتِلُوا تَحْتَ أَدِيمِ السَّمَاءِ

“Mereka adalah sejelek-jelek orang yang terbunuh di bawah langit” [4]

Kaum Khawarij ini diperangi kaum muslimin, hingga hampir hilang dari permukaan bumi. Memang, kumpulan mereka ini masih ada di beberapa tempat, seperti: di Oman, Maroko, Al Jazair dan Zanjibar. Diwakili oleh sekte Ibadhiyah. Meskipun demikian, pemikiran dan aqidah mereka masih eksis dan bertebaran di sekitar kaum muslimin. dan terkadang sebagian kaum muslimin tidak sadar memiliki pemikiran dan aqidah mereka ini.

Kemudian lebih dari seperempat abad yang lalu muncullah istilah takfir dan hijrah, ditandai dengan satu kejadian besar. Yaitu pembunuhan terhadap penulis kitab At Tafsir wal Mufassirun, Syaikh Muhammad Husein Adz Dzahabi.

Jamaah takfir wal hijrah ini dikatakan oleh para peniliti, sebagai bagian dari Jamaah Ikhwanul Muslimin. Mereka kecewa dengan sikap dan tindakan tokoh-tokoh pemimpin Ikhwanul Muslimin dengan peran mereka dalam politik negeri Mesir. Lalu mengangkat panji hakimiyah sebagai simbol pemisah kafir dan Islam. Pada akhirnya, mereka mengkafirkan seluruh kaum muslimin, baik penguasa maupun rakyatnya –tentu- kecuali anggota jamaah mereka.

Dari takfir ini, mereka melakukan pembunuhan, peledakan dan pelecehan hak para ulama serta kaum muslimin. Mereka mengambil pemikirannya berdasarkan tulisan dan pernyataan Sayyid Quthub yang telah menjadi imam dan pemikir sejatinya. Kita akan semakin jelas melihatnya, jika mencermati dan menelaah pemikiran Sayyid Quthub, salah seorang tokoh legendaries Jamaah Ikhwanul Muslimin. Mereka banyak menjadikan pemikiran tokoh intelektual ini dalam kaidah beragama. Memnyebabkan mereka menjadi orang yang cepat memvonis kafir terhadap orang lain. Mencela para ulama yang tidak cocok atau dianggap tidak sesuai dengan mereka. Hal ini tidaklah mengherankan. Karena orang yang telah terkena fitnah takfir, tentunya tidak lepas dari gaya penampilan para pendahulu mereka dari kalangan Khawarij. Beberapa pemikiran Sayyid Quthub tentang takfir, dapat diketahui besarnya bahaya yang muncul karenanya.

Tentang takfir ini [5], Sayyid Quthub mengkafirkan hampir seluruh kaum muslimin, termasuk para muadzin yang selalu melantunkan kalimat tauhid. Seperti ini dapat dilihat pada tulisan beliau. Diantara pernyataan beliau, ialah:

1. Manusia telah murtad kepada penyembahan makhluk (paganisme) dan kejahatan agama serta telah keluar dari Laa ilaha Illa Allah. Walaupun sebaian mereka masih selalu mengumandangkan Laa ilaha Illa Allah diatas tempat beradzan”.[6]

2. Manusia telah kembali kepada kejahiliyahan, dan keluar dari Laa ilaha Illa Allah … Manusia seluruhnya -termasuk orang–orang yang selalu mengumandangkan kalimat Laa ilaha illa Allah pada adzan-adzan di timur sampai barat bumi ini tanpa pengertian dan pembuktian nyata- bahkan mereka ini lebih berat dosa dan adzabnya pada hari kiamat; karena mereka telah murtad kepada penyembahan makhluk, setelah jelas bagi mereka petunjuk dan setelah mereka berada di agama Allah [7].

3. Masyarakat yang menganggap dirinya muslim masuk ke dalam lingkungan masyarakat jahiliyah, bukan karena meyakini uluhiyah kepada selain Allah. Bukan pula karena menunjukkan syi’ar-syi’ar peribadatan kepada selain Allah Subhanahu wa Ta’ala, akan tetapi mereka masuk ke dalam lingkup ini karena tidak beribadah kepada Allah saja dalam hukum-hukum kehidupannya.[8]

4. Orang yang tidak mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam hakimiyah –di semua zaman dan tempat- adalah orang-orang musyrik. Tidak mengeluarkan mereka dari kesyirikan ini, walaupun mereka berkeyakinan terhadap Laa ilaha illa Allah dan tidak pula syi’ar (peribadatan) yang mereka tujukan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.[9]

5. Di permukaan bumi ini, tidak ada satupun negara Islam dan tidak pula masyarakat muslim [10].

Sayyid Quthub mengkafirkan masyarakat kaum muslimin yang ada. Karena –masyarakat muslim itu- tidak menggunakan hukum-hukum Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam mengatur kehidupan mereka. Akan tetapi, beliau mensifatkan penyembah berhala -dari kalangan kaum musyrikin- dengan pernyataannya: “Kesyirikan mereka yang hakiki bukanlah pada permasalahan ini -yaitu penyembahan berhala untuk mendekatkan diri dan meminta syafaat di hadapan Allah- dan tidak pula islamnya orang yang masuk Islam karena meninggalkan permohonan syafaat kepada para berhala tersebut”.[11]

Perhatikanlah pernyataan beliau ini. Bukankah menyelisihi firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini?

وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أَمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُوا اللهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan),”Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu,” [An Nahl:36]

إِنَّ اللهَ لاَيَغْفِرُ أَن يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَادُونَ ذَلِكَ لِمَن يَشَآءُ

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu”, [An Nisa:48].

Bahkan para Rasul berdakwah mengajak kaumnya untuk tidak menyembah selain Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menyatakan,

يَاقَوْمِ اعْبُدُوا اللهَ مَالَكُم مِّنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ

“Wahai kaumku sembahlah Allah, sekali-kali tak ada Ilah bagimu selainNya”. [Al A’raf:59].

Kemudian kaum ‘Ad membantah ajakan nabi mereka dengan menyatakan,

قَالُوا أَجِئْتَنَا لِنَعْبُدَ اللهَ وَحْدَهُ وَنَذَرَ مَاكَانَ يَعْبُدُ ءَابَآؤُنَا فَأْتِنَا بِمَا تَعِدُنَآ إِن كُنتَ مِنَ الصَّادِقِينَ

“Mereka berkata,”Apakah kamu datang kepada kami, agar kami hanya menyembah Allah saja dan meninggalkan apa yang biasa disembah oleh bapak-bapak kami, maka datangkanlah adzab yang kamu ancamkan kepada kami, jika kamu termasuk orang-orang yang benar.” [Al A’raf:70].

Demikian juga kaum Nabi Nuh Alaihissallam, ketika didakwahi untuk tidak menyembah orang shalih yang diyakini dapat memberi syafaat dan mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka menyatakan,

وَقَالُوا لاَ تَذَرُنَّ ءَالِهَتَكُمْ وَلاَتَذَرُنَّ وَدًّا وَلاَسُوَاعًا وَلاَيَغُوثَ وَيَعُوقَ وَنَسْرًا

“Dan mereka berkata,”Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) ilah-ilah kamu, dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa’, yaghuts, ya’uq dan nasr,” [Nuh:23].

Ternyata dakwah para Rasul ialah mengajak manusia menyembah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan menjauhi syirik dalam peribadatan, bukan syirik hakimiyah; tidak seperti yang mereka inginkan. Bahkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menegaskan dalam pernyataan beliau :

يَا ابْنَ آدَمَ إِنَّكَ لَوْ أَتَيْتَنِي بِقُرَابِ الْأَرْضِ خَطَايَا ثُمَّ لَقِيتَنِي لَا تُشْرِكُ بِي شَيْئًا لَأَتَيْتُكَ بِقُرَابِهَا مَغْفِرَةً

“Wahai Bani Adam, sesungguhnya jika kamu menjumpaiKu dengan membawa sepenuh bumi kesalahan, kemudian menjumpaiKu dalam keadaan tidak menyekutukanKu, sungguh Aku akan memberimu sepenuh pengampunan bumi” [12].

يَا مُعَاذُ أَتَدْرِي مَا حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ قَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا أَتَدْرِي مَا حَقُّهُمْ عَلَيْهِ قَالَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ أَنْ لَا يُعَذِّبَهُمْ

“Wahai Mu’adz, tahukah engkau, apa hak Allah atas hambaNya?Dia (Mu’adz) menjawab,“Allah dan RasulNya lebih mengetahui.” Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab,“MenyembahNya dan tidak menyekutukanNya. Apakah engkau tahu, apa hak mereka atas Allah?” Mu’adz menjawab,“Allah dan RasulNya lebih mengetahui.” Beliau menjawab,“Tidak mengadzab mereka.” [13]

Subhanallah! Seandainya memang benar perkataan dan pernyataan Sayyid Quthub ini, tentulah apa yang didakwahkan para Rasul tersebut tidak sesuai dengan kenyataan dan kebutuhan umat manusia. Ini sungguh kesalahan yang sangat fatal sekali.

Pemikiran takfir ini terus merebak di kalangan para pemuda kaum muslimin yang bersemangat. Sehingga, akibatnya mereka mengorbankan diri untuk meledakkan bom, merusak dan membunuh dengan dalih jihad suci melawan orang kafir. Bahkan lebih dari itu, mereka melecehkan para ulama dan mengkafirkannya. Lantaran para ulama itu tidak mengkafirkan orang yang telah kafir. Sungguh mengerikan akibat ditimbulkan dari pemikiran takfir ini.

Maka, sudah seharusnya kaum muslimin senantiasa waspada terhadap kembalinya pemikiran-pemikiran yang merusak ini. Yaitu dengan menuntut ilmu agama dari para ulama, dan tidak tergesa-gesa memvonis kafir (takfir) terhadap orang lain, serta senantiasa menyerahkan permasalahan kepada ahlinya.

Ya Allah, kembalikanlah kami dan mereka ke dalam naungan Engkau. Tunjukanlah ke jalan yang Engkau ridhai.

[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 12//Tahun VI/1423H/2003M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016]
_______
Footnote
[1]. Firaqun Mu’asharah Tantasibu Ilal Islam 1/88, karya Dr. Ghalib bin Ali Al ‘Awajiy
[2]. Lihat kisahnya dalam perdebatan Ibnu Abbas dengan mereka dalam buku Mengapa Memilih Manhaj Salaf, halaman 135-140
[3]. Diriwayatkan oleh Abu Daud.
[4]. Diriwayatkan oleh At Tirmidzi, no. 2926 dan Ibnu Majah dalam Muqaddimah, no.173
[5]. Semua penukilan perkataan Sayyid Quthub diambil dari makalah Syaikh Sa’ad Al Hushein dalam Majalah Al Ashalah, 35/VI/Sya’ban 1422H, halaman 30-32, yang berjudul Fitnah At Takfir.
[6]. Fi Dzilalil Qur’an 2/1057, Cetakan Darusy Syuruq.
[7]. Ibid.
[8]. Ma’alim Fi Thariq, hal.101, Cetakan Darusy Syuruq.
[9]. Fi Dzilalil Qur’an 2/1492, Cetakan Darusy Syuruq.
[10]. Ibid. 2/2122.
[10]. Ibid. 3/1492.
[11]. Diriwayatkan oleh At Tirmidzi, no.3463.
[12]. Mutafaqun ‘alaihi